Bawa Kesetaraan Untuk Teman Tuli, Aplikasi Bahasa Isyarat Hear Me Ingin Jangkau Fasilitas Publik

Hear-Me-3D-Animasi-Header

Hear-Me-3D-Animation-Header

Gadgetren – Keterbatasan akses bagi penyandang disabilitas, khususnya penyandang tuna rungu atau tuna netra, memicu empat mahasiswa ITB membuat aplikasi Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) bernama Hear Me.

Murid-murid tersebut terdiri dari Athalia Mutiara Laksmi, Safirah Nur Shabrina, Octiafani Isna Ariani, dan Nadya Sahara Putri. Hear Me yang diwakili oleh Athalia Mutiara Laksmi selaku CEO & Co-Founder Hear Me menjelaskan bahwa aplikasi tersebut merupakan perusahaan sosial yang dirintis pada tahun 2019.

Alasan mendirikan Hear Me bermula dari pengalaman pribadi Athalia saat memesan taksi online untuk teman tunarungu. Sopir tuna rungu itu kerap mendapat rating rendah dan kerap ditemani putrinya untuk menengahi komunikasi dengan penumpang.

“Kami melihat putrinya berhak bermain, belajar, belajar, dan sebagainya, yang mendorong kami untuk membuat Hear Me,” ujarnya kepada tim Gadgetren.

Sebagai aplikasi terjemahan suara BISINDO yang pertama, Hear Me artinya & # 39; dengarkan saya & # 39 ;. Dari pengertian ini, Hear Me membawa pesan bahwa semua teman Tunarungu dan Tunarungu memiliki hak yang sama untuk mendengar dan melihat.

Aplikasi Pendiri-Hear-Me-ITB

Agar bisa diterima oleh semua orang, Hear Me menghadirkan pelajaran BISINDO untuk teman-teman Tunarungu dan Mendengar yang dikemas dalam kartun animasi 3D agar lebih menarik dan interaktif. “Akses komunikasi tunarungu menjadi efektif dan membantu kesetaraan hak penyandang disabilitas, khususnya bagi teman tunarungu,” tambahnya.

Berbagai pencapaian pun telah diraih Hear Me yang telah diakses di 84 negara, menduduki peringkat ke-7 di Google App Store, dan dinobatkan sebagai lima aplikasi yang paling banyak diakses di Indonesia.

Athalia dan tim berharap Hear Me mampu mewujudkan kesetaraan Hak Disabilitas untuk berbagai fasilitas umum yang ramah bagi teman tunarungu seperti televisi, restoran, layanan Drive Thru, rumah sakit, sekolah, kampus, bandara, stasiun, dan lain-lain.

Baca:  Xiaomi Tawarkan Servis Selesai 5 Hari atau Ganti Baru

Belajar-Bahasa Isyarat-Komunitas-Dengarkan-Aku

“Teman Mendengar juga bisa belajar BISINDO, tidak ada budaya Tunarungu dan Dengar yang bisa ditinggikan tapi bagaimana kita bisa bahu membahu untuk saling mendukung,” ujarnya.

Athalia dan tim terus melakukan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang BISINDO baik online maupun offline melalui pesan kelompok untuk ibu dengan anak tunarungu dan berbagai organisasi sosial Tunarungu.

Hal senada juga disampaikan Surya Sahetapy selaku Mahasiswa Tunarungu di Rochester Institute of Technology (RIT). Ia mengungkapkan, akses BISINDO masih digunakan di rumah dan sebagian besar masyarakat belum bisa mendapatkan akses penuh.

Dengarkan-Saya-Isyarat Bahasa-Sebagai-Komunikasi-Teman-Tunarungu-Hambatan-Bebas

“Saat ini hanya sedikit yang terjadi di dunia pendidikan. Bahasa Isyarat bukan hanya untuk teman Tunarungu saja tapi juga untuk teman Listening yang bisa membantu otak untuk berkembang. Saya dukung agar BISINDO bisa menjadi kurikulum Nasional,” terangnya.

Bagi Surya, BISINDO untuk teman-teman mendengarkan bisa membantu mengungkapkan kepada teman-teman tunarungu tidak ada lagi kendala. Ia menambahkan, saat berbicara jarak jauh atau bahkan saat menyelam, teman mendengarkan juga bisa berkomunikasi menggunakan Bahasa Isyarat.

Saat ini, aplikasi Hear Me Sign Language tersedia untuk diunduh melalui perangkat Android dan iOS di Google Play Store dan Apple App Store. Rencananya, Athalia dan tim akan secara intensif membuka kerjasama dengan berbagai pihak yang berkepentingan untuk mengembangkan aplikasi Hear Me agar dapat lebih mudah dan mudah diakses oleh semua sahabat Tunarungu dan Listen hingga pelosok di Indonesia.

Baca lebih lanjut tentang gadget di gadgetren.comPostingan Membawa Kesetaraan kepada Teman Tunarungu, Aplikasi Bahasa Isyarat Dengarkan Saya Ingin Jangkau Fasilitas Umum pertama kali muncul di Gadgetren.